Bagaimana Menghindari Kengerian Shirath

Mas Joko bermimpi mengenai akhirat. Ia berdiri di dataran Mahsyar memandang Jahanam dan Jembatan Shirath (As-Sirat dalam bahasa Arab). orang menyeberang shirathIa harus menyeberangi jembatan itu untuk menghindari Jahanam. Sayang Shirath bukan seperti jembatan di dunia ini. Menurut agamanya, As-Sirat lebih halus dari rambut, lebih tajam dari pedang (dapat membelah telapak kaki), lebih panas dari bara api dan licin sekali.

Agama Mas Joko mengajarkan bahwa amalnya dan juga imannya adalah kunci untuk menyeberangi As-Sirat. Ia juga tahu di atas As-Sirat ada besi-besi pengait dan kawat berduri, yang ujungnya bengkok dan dapat mencangkoknya. Siapa yang tercangkok akan ditarik ke neraka.

Selama hidupnya, ajaran agama Mas Joko mengingatkannya mengenai kesulitan menyeberangi As-Sirat. Ia menjadi takut dan berusaha taat dalam agamanya. Tujuannya, agar amalnya bertambah supaya, mudah-mudahan mampu melewati As-Sirat. Email kami kalau Anda, seperti Joko, pernah bermimpi mengenai As-Sirat.

Agama Lain dan Jembatan Atas Jahanam

orang jatuh dari shirath

Agama kuno Jepang dan Yahudi serta Zorastrianisme (agama Parsi) mengajarkan adanya jembatan atas neraka.

Dan agama Zorastrianisme menamakannya Chinvat dan “jembatan kiamat” yang setajam pedang. Semua yang mati harus menyeberangi neraka di atas jembatan ini.

Siapa Tidak Percaya Akan Shirath?

 Kelompok Islam Mu’tazilah tidak mengimani adanya As-Sirat. Menurut mereka, adanya As-Sirat  tidak logis. Argumentasinya ialah bagaimana mungkin manusia bisa melewati jembatan yang lebih halus dari rambut, lebih tajam dari pedang, sangat licin dan selalu bergerak-gerak?

Pengikut Isa Al-Masih juga tidak percaya akan adanya jembatan berwujud ke sorga. Konsep ini tidak terdapat dalam Kitab Allah.

Salib Bukan Jembatan atas Neraka!

orang menyeberang jembatan salibTidak satu ayatpun dalam Kitab Allah yang berkata bahwa Salib adalah jembatan atas neraka. Namun ada ayat yang menunjukkan Isa Al-Masih sebagai Jalan ke Sorga. “Akulah jalan . . . Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa [sorga], kalau tidak melalui Aku” (Kitab Allah, Yoh. 14:6). Lewat penyaliban-Nya Isa Al-Masih memungkinkan pengampunan dosa dan kepastian keselamatan di sorga.

Demikian pengikut Isa Al-Masih memakai metafora salib sebagai “Jembatan” untuk menolong orang mengerti bahwa Isa adalah “Jalan” dan juga “Jembatan” ke sorga.

 Jembatan Mana yang Anda Pilih?

isa wafat disalibBagaimana bila seandainya dalam mimpinya, Mas Joko melihat salib sebagai jembatan yang menyeberangi api neraka. Ia melihat banyak orang yang tanpa takut dan dengan gembira melewati Jembatan Salib ini. Kalau misalnya Anda adalah Joko email kami tentang jembatan mana yang Anda akan pilih.

Joko tidak perlu berdiri dengan gemetar di dataran Mahsyar untuk mempertimbangkan As-Sirat. Isa Al-Masih, Kalimat Allah, telah dihukum sebagai ganti Mas Joko dan seluruh umat manusia di kayu salib.

Dengan percaya pada Isa, Mas Joko di akhir hayatnya tidak perlu gemetar akan Shirath! Ia akan langsung naik ke sorga!

Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf Takut Neraka berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Menurut Anda, mengapa agama Islam mengemukakan konsep As-Sirat yang begitu sulit melewati?
  2. Kalau diminta, bagaimana Anda akan menasihati Joko supaya tidak gemetar dan takut pada waktu memikirkan Shirath? Jelaskanlah jawaban Anda.
  3. Pernahkah Anda menjadi takut pada waktu memikirkan As-Sirat? Bagaimana Anda menghilangkan ketakutan itu?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas atau ketakutan akan neraka maaf bila terpaksa kami hapus.

Ditulis oleh: Jason

94
Meninggalkan Komentar

1000
47 Comment threads
47 Thread replies
4 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
47 Comment authors
  Subscribe  
Beritahulah
Ahmad Fauzi

~
Kalau saya mau keluar kota ada dua bus jurusan sama, yang satu mengatakan insya Allah saya mengantarkan anda dengan selamat, sedangkan bus yang satu berkata pasti saya mengantarkan anda dengan selamat. Saya akan memilih bus yang insya Allah mengantar dengan selamat, karena manusia itu terbatas kemampuannya. Bila bus kedua-duanya tidak selamat nyebur jurang berarti bus yang satu itu pendusta, pembohong, tidak bisa dipercaya ucapannya.

Dalam agama Nasrani mengatakan sesuatu selalu pasti, pasti masuk sorga, pasti selamat, pasti sampai tujuan padahal kemampuan manusia itu terbatas kemampuan nabi Isa terbatas begitu juga kemampuan nabi Muhammad terbatas dibandingkan ilmu Allah SWT ilmu manusia setetes air laut dibandingkan ilmu Allah SWT yang seluruh alam beserta isinya Dia yang menciptakannya sedangkan nabi Isa cuma karena mengorbankan dirinya disalib lalu dijadikan Tuhan. Itu sesuatu yang mustahil, tidak masuk akal. Mungkin bisa masuk akal bila nabi Isa menciptakan langit sedangkan Allah SWT yang menciptakan bumi.

tn-komentar1

~
Sebuah analogi atau ilustrasi yang menarik. Saya setuju kalau memilih bus yang insya Allah mengantar dengan selamat. Kenapa? Karena manusia terbatas. Tapi ini berbeda dengan Allah. Allah tidak terbatas, sehingga tidak diragukan janji yang diberikan-Nya.

Saya membaca sebuah ayat Injil, Yohanes 10:28, “Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Saya berpikir dan bertanya, mengapa Isa Al-Masih berani memberikan jaminan pasti masuk sorga? Mengapa Muhammad tidak berani memberikan jaminan pasti masuk sorga? Bagaimana menurut Anda?
~
Staff TN

Achmad Syajari

~
Jika Anda mau memasukkan anak Anda ke sebuah sekolah, dan Anda ingin anak Anda menjadi orang berkualitas. Lalu Anda mendapat tawaran dari dua sekolah.

Sekolah yang satu menawarkan, jika anak Anda masuk ke sini maka insyaallah akan menjadi anak berkulitas jika dia lulus dari sekolah ini. Namun untuk lulus harus menempuh ujian dan mematuhi segala peraturan sekolah.

Sekolah kedua menawarkan, jika anak Anda masuk sini kita jamin pasti lulus, kita mudahkan untuk lulus. Nanti tesnya kita tebus, kiat yang bantu, kita yang jadi jokinya. Jika hasil ujiannya ada yang salah, gurunya akan menebusnya dan membenarkan ujiannya, sehingga anak bapak ibu pasti dijamin lulus.

Orang-orang yang berhati baik, bersih, jujur tentu tahu pilihan terbaik memasukkan anaknya ke sekolah yang mana dari dua pilihan sekolah tersebut.

tn-komentar1

~
Saya sangat setuju dengan ilustrasi yang Anda berikan di atas. Jelas, sebagai orang tua saya pasti memilih sekolah pertama. Saya ingin agar anak saya lulus dengan hasil terbaik dari usahanya sendiri, demi masa depannya.

Tapi perlu kita ingat, bahwa memilih ‘jalan’ ke sorga tidak sama seperti memilih sekolah!

Seseorang membutuhkan nilai kelulusan yang tinggi untuk mempermudah mendapat pekerjaan. Apakah seseorang juga membutuhkan amal yang banyak agar dapat melewati jembatan as-shirath? Berbuat amal jelas hal yang baik. Sayangnya, amal tidak dapat menolong kita melewati as-shirath. Bukankah Kitab Suci Anda juga berkata demikian?

Sebab itu, jika kita ingin terhindar dari kengerian as-shirath, kita memerlukan rahmat dan kasih dari Allah.

Kitab Suci Injil menuliskan, “Jadi, karena anugerahlah kamu diselamatkan melalui iman. Itu buakn berasal dari dirimu sendiri, melainkan pemberian Allah, itu buakn karena amalmu, jangan seorang pun menyombongkan diri.”
~
Staff TN

Bagus wijanarko

~
Nabi Muhammad sendiri pernah bersabda, jika seorang Muslim sering melakukan tahajud maka dia akan terbang secepat kilat menuju sorga tanpa berjalan di atas shirath, Dan jika seorang Muslim sering mengamalkan surat al-Iklas maka dia akan menuju sorga hanya dalam hitungan kerlipan mata. Dan jika seorang Muslim sering ke masjid maka kelak masjid akan menolongnya sampai ke sorga. Lebih mudah kan?

tn-komentar1

~
Memang, kelihatannya sangat mudah. Cukup sesering mungkin tahajud, mengamalkan surat al-iklas, dan sering ke masjid. Maka orang tersebut akan terhindar dari neraka.

Pertanyaan saya: Bila memang benar sedemikian gampangnya masuk sorga, mengapa para Mukmin selalu berkata “insya allah” ketika ditanya soal keselamatan di akhirat? Dan juga, mengapa begitu banyak Mukmin yang resah akan hari pembalasan Allah?

Qs 20:74 mengatakan, “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak hidup.”

Orang yang sering tahajud, mengamalkan surat al-iklas, dan sering ke masjid juga termasuk orang yang berdosa, bukan? Apakah ayat di atas tidak berlaku bagi mereka sementara mereka juga orang yang berdosa?
~
Staff TN

Dede

~
Admin TN saja belum pernah ke akherat, untuk apa kasih tahu jembatan asshirot? Biblemu bilang kalau percaya sama Yesus bakal hidup abadi, walaupun minum racun tidak bakal mati. Adakah sampai hari ini pengikut Paulus yang masih hidup? Beranikah admin TN minum racun? Saya tantang ini, kalau tidak mati sehat bugar saya berani masuk Kristen. Itu saja.

Saya tunggu pengumuman anda kalau berani minum racun, saya live streaming ke seluruh dunia saya masuk Kristen karena percaya Yesus dan anda tidak mati karena racun.

tn-komentar1

~
Tentu tidak ada seorang pun yang pernah ke akhirat. Tetapi kita mengetahui bahwa akhirat hanya ada dua tempat, yakni sorga dan neraka. Setiap orang yang percaya pada Isa pasti diselamatkan. Hal ini sesuai dengan firman-Nya, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Injil, Yohanes 3:18).

Karena itu, tidak perlu melakukan tindakan yang mencobai Allah dengan meminum racun. Bila Anda ingin menjadi pengikut Isa, maka pelajari Isa dari Injil secara menyeluruh, tanpa harus melakukan demontrasi meminum racun.
~
Staff TN

Muhamad Basuki

~
Pertanyaam anda: “Pertanyaan saya: Bila memang benar sedemikian gampangnya masuk sorga, mengapa para Mukmin selalu berkata “insya allah” ketika ditanya soal keselamatan di akhirat? Dan juga, mengapa begitu banyak Mukmin yang resah akan hari pembalasan Allah?”

Jawab: Insya Allah itu artinya jika Allah mengizinkan, jelas memasukkan seseorang ke surga/neraka itu hak prerogatif Allah. Banyak yang resah? Tidak juga, makanya banyak Muslim yang tidak shalat, mungkin tidak takut akhirat.

tn-komentar1

~
Kata ‘insya Allah’ menjelaskan adanya ketidakpastian dalam agama Islam. Bukankah hal ini dipertegas oleh arti dari insya Allah tersebut? Itu sebabnya, saya berpendapat jika Allah SWT memberikan kepastian masuk sorga, maka kata yang digunakan bukan insya Allah, melainkan kata yang mengandung kepastian.

Saya bertanya kepada Anda. Apakah Anda yakin dan pasti masuk sorga? Tertulis dimanakah itu dalam Quran? Bagaimana?
~
Staff TN

Joko Priyanto

*****
1. Untuk meraih sesuatu yang spesial pasti jalannya akan sulit dan butuh pengorbanan
2. Yakinlah tentang tujuan kita, ke arah mana jalan yang akan kita tempuh. Semua pasti ada “guide book”.
3. Tidak perlu kita takutkan, karena sudah ada jalan pilihan mana yang akan kita tempuh. Yakinlah.

tn-komentar1

*****
1. Perlu dipikirkan lebih lanjut mengenai ini. Bila sudah melakukan pengorbanan yang besar untuk masuk sorga, apakah Anda yakin dan pasti masuk sorga? Jika tidak memiliki keyakinan masuk sorga, bukankah itu sia-sia?
2. Bila ada guide book yang pasti, mengapa banyak yang tidak yakin dan pasti masuk sorga?
3. Apakah pernyataan ini sebagai bentuk penghiburan diri atau Anda sudah yakin dan pasti masuk sorga? Mengapa?
~
Staff TN

Nad

~
Saya ingin berpendapat. Kata ‘Insya Allah’ digunakan oleh umat Muslim karena ketika manusia merencanakan sesuatu, pada akhirnya nanti Allah SWT yang akan menentukan bagaimana jadinya. Karena semua ketetapan, takdir dan apa yang akan terjadi selanjutnya itu adalah rahasia Allah SWT.
Lalu, apakah saya yakin akan masuk surga? Saya selalu berharap begitu, disertai dengan berusaha, selalu berburu pahala dan amal sholeh, maka insyaAllah bisa masuk surga.

Mengapa InsyaAllah? Karena perhitungan amal sholeh dan pengetahuan tentang yang ghaib seperti surga dan neraka ada di tangan Allah SWT, dan pengetahuan manusia tentang itu masih sangat sedikit sekali dibandingkan pengetahuan Allah SWT. Wallahu alam.

tn-komentar1

~
Dalam hal perencanaan kata ‘insya Allah’ tepat digunakan. Sebab manusia tidak tahu tentang masa depan dan hari depan. Tetapi berkenaan dengan keselamatan di akhirat, mengapa masih menggunakan kata ‘insya Allah’? Bukankah Allah mengetahui masa depan? Bukankah Ia telah memberikan janji dan kepastian?

Saya bertanya kepada Anda. Mengapa Anda tidak yakin masuk sorga? Bagaimana?
~
Solihin

rahmat

~
Jembatan yang dipilih adalah jembatan yang lurus. Soalnya kalau salip ada simpangannnya maka bisa salah jalan itu.

tn-komentar1

~
Rahmat,

Saya kira di akhirat bukan bersifat fana, melainkan baka. Bila di akhirat bersifat fana, maka tidak ada bedanya dengan di dunia ini. Memang kita perlu memikirkan keselamatan di akhirat. Tetapi benarkah jembatan bisa menolong Anda masuk sorga dan berjumpa Allah di sorga padahal Allah adalah suci? Selain itu, Allah tidak berkenan dengan satu dosa saja yang dimiliki oleh Anda. Dengan demikian, bila Anda mempunyai satu dosa saja, maka hal itu sudah cukup untuk membawa Anda ke neraka.

Saya ingin tahu bagaimana Anda bisa selamat dan masuk sorga. Saya bertanya kepada Anda. Bagaimana cara Anda bisa pasti masuk sorga, bukan insya Allah? Saya harap Anda bisa menjelaskan.
~
Staff TN

Romanpicisan

~
Sesat aliran sesat. Jangan suka menyesatkan orang lain. Agama yang diakui Allah SWT cuma Islam. Karena Islam adalah agama sempurna dan dijamin kesuciannya hingga akhir zaman. Tidak ada jembatan salib.

tn-komentar1

~
Saya kira kalau Islam adalah agama sempurna, maka sudah seharusnya Islam memberikan jaminan pasti masuk sorga, bukan sekedar klaim semata. Sebab faktanya semua Muslim tidak memiliki keyakinan pasti masuk sorga, selain hanya mampu mengucapkan, “Insya Alla”. Apakah ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk memiliki keyakinan pasti masuk sorga? Nampaknya Anda mesti memikirkan hal ini berulang kali dan mencari kebenaran sesungguhnya.

Saya telah menemukan kepastian keselamatan dalam Isa Al-Masih. Isa Al-Masih telah memberikan jaminan pasti masuk sorga. Bacalah bagaimana Isa Al-Masih berfirman, “Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 10:28). Saya bertanya kepada Anda. Adakah di Al-Quran memberikan keterangan seperti firman Isa Al-Masih tersebut? Mengapa? Dapatkah Anda menjelaskan?
~
Staff TN

Irfan

~
Jembatan dimaksud untuk membedakan yang berdosa karena kuffur dan munafik yang pasti tidak akan dapat melaluinya yang digambarkan dalam bentuk kesulitan yang mustahil dapat dilalui. Sebaliknya bagi yang mudah melaluinya adalah yang bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa sesuai yang diperintahkan Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang dan ditaati sampai akhir hayat. Ini keyakinan saya sebagai umat Muslim, tentunya untuk yang di luar itu keyakinan dan akidahnya akan berbeda-beda penafsirannya dan hal ini tidak untuk diperdebatkan.

Untuk saudara-saudara seiman, tadaburi atau maknai ayat “maalikiyaumidiin – yang menguasai hari pembalasan” karena lebih baik kita khawatir, takut menghadapi masa itu, sehingga akan menjadi dasar kita untuk selalu ingin meningkatkan keimanan dan melakukan perbuatan baik semasa hidup untuk dapat melalui hari pembalasan dimaksud. Amin.

tn-komentar1

~
Irfan,

Saya berpikir seperti ini ketika membaca komentar Anda. Kalau yang bertakwa mudah melalui jembatan itu, maka hal ini perlu dibuktikan melalui ayat-ayat Al-Quran. Sekarang saya bertanya kepada Anda. Tertulis dimanakah dalam Al-Quran bahwa orang-orang bertakwa mudah melewati jembatan itu? Sebab Al-Quran justru menyatakan sebaliknya.

“Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Qs 19:71). Jadi, kalau mencermati ayat itu, maka semua masuk neraka, termasuk orang bertakwa. Jadi, apa dasar Anda menyatakan demikian?
~
Staff TN

amor

~
Allah menjamin bahkan di tiga alam, dunia kubur dan surga (Qs 2:1-5). Allah dalam penciptaannya selalu menggunakan syariat. Adam diciptakan dari tanah dan hukum sebab akibat selalu berlaku di setiap umat. Dia masuk surga karena mendapat rahmat, ada syariat untuk mendapatkanya. Bukan jaminan dari segelintir mahluk, karena Allah mampu menilai satu demi satu makhluknya.

Maaf, jika telah dijamin lalu buat apa menilai lagi, bahkan satu umat, apakah Tuhan berusaha mengirit tinta? Dan setelah dijamin sehingga tidaklah perlu berhati-hati dalam berbuat, toh pasti lulus. Mana yang lebih logis?

tn-komentar1

~
Saya memeriksa Qs 2:1-5 dan tidak menemukan jaminan masuk sorga jannah di sana, kecuali hanya sederetan perintah ibadah. Tetapi sekalipun perintah ibadah telah diberikan, tetap tidak diberikan jaminan pasti masuk jannah. Lalu, bagaimana Anda bisa yakin bahwa Qs 2:1-5 merupakan jaminan bahkan di tiga alam?

Saya berpikir bahwa Anda perlu membaca Qs 19:71-72. Ayat tersebut merupakan satu-satunya yang memberikan kepastian dalam Al-Quran. Coba Anda periksa ayat itu. Nah, saya tanya kepada Anda. Kenapa Al-Quran memastikan semua masuk neraka, termasuk orang bertakwa? Bagaimana menurut Anda?
~
Staff TN

Heri

~
Admin,

Bagaimana ini? Orang pada jawab kasih pendapat dibantah semua. Terserah Anda min. Anda saja yang paling benar.

tn-komentar1

~
Saudara Heri,

Setiap pendapat yang menyatakan kebenaran pasti tidak disanggah. Namun, pendapat yang tidak memiliki dasar yang jelas pasti disanggah. Sebab setiap pendapat perlu memiliki dasar. Saya menemukan banyak pendapat yang disampaikan masih sebatas asumsi. Itu sebabnya, sanggahan bersifat pertanyaan untuk mengklarifikasi. Apa Anda berpikir bahwa bertanya adalah keliru?

Bagaimana dengan kengerian shirath? Apa Anda siap menghadapi shirath? Mungkinkah Anda bisa melewatinya padahal tidak mungkin seorang pun bisa melewati jembatan yang terbuat dari rambut dibelah tujuh itu? Bagaimana?
~
Staff TN

Udi

~
Jawaban
1. Konsep sirath tidak sesulit seperti yang diceritakan. Terlihat seolah sulit karena ada beberapa informasi yang disembunyikan. Dalam beberapa hadits dijelaskan ada yang melewatinya secepat kilat, secepat kedipan mata, berjalan biasa, ada yang sempat tergelincir tapi tetap selamat, ada yang dibimbing sampai seberang.

2. Sebetulnya tidak perlu takut. Allah yang maha pengasih sangat pengampun dan sudah menyampaikan jalan keselamatan yang mudah, rasional, dan sangat aplikatif. Cukup beriman dan beramal soleh, menjalankan segala perintah-Nya menjauhi larangan-Nya. Senantiasa berzikir sehingga pertolongan Allah pun selalu dekat. Jaga silaturahmi

3. Alhamdulilah tidak pernah ada rasa takut dan gelisah memikirkan sirath karena bagi siapa saja yang tahu ilmunya sudah tahu cara mempersiapkan diri. Kalau rajin membaca Al-Quran dan Hadits tidak ada yang sulit dalam Islam. Karena Islam memang rahmatan lil ‘amin. Sirath tidak sesusah dogma yang mengajarkan masuk sorga lebih sulit daripada memasukan unta ke lubang jarum.

tn-komentar1

~
1. Menarik sekali jawaban Anda di atas. Bila menghadapi sirath bisa secepat kilat atau kedipan mata, maka pandangan seperti itu seperti masuk dalam dunia imajinasi (fiksi). Mengapa? Realita sesungguhnya tidak demikian. Bila Anda menyatakan bahwa melewati sirat bisa secepat kilat, maka silakan Anda membuktikan dari Quran. Tertulis dimanakah itu dalam Al-Quran? Sebab Muhammad pun tidak tahu tentang nasibnya di akhirat (Qs 46:9)?

2. Betul sekali kalau Allah maha pengampun, tetapi perlu diingat juga bahwa Allah maha adil dan harus menghukum orang berdosa. Bukankah Al-Quran menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahannam” (Qs 43:74)? Bagaimana tindakan aplikatif dan rasional untuk lepas dari neraka?

3. Mohon maaf, Anda keliru mengutip dogma agama lain, karena yang benar adalah “Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Markus 10::25). Saya senang kalau Anda sudah membaca Al-Quran. Kalau begitu saya bisa bertanya kepada Anda. Mengapa Muhammad tidak tahu keselamatannya di akhirat (Qs 46:9)?
~
Staff TN

Alinka

~
Sudah, sudah, yakinlah dengan Tuhan. Jadilah baik dan pantaskan diri kita untuk disayangi oleh Maha Pencipta. Tuhan tidak meminta apa-apa dari kita, tapi kita yang selalu mau ini itu yang enak-enak saja, seperti kenikmatan dan surga. Pikirkan apa yang sudah Tuhan beri kepada seluruh alam semesta. Pikirkan apa yang bisa kita beri kepada Tuhan. Bukankah memeluk suatu keyakinan (agama) karena ingin jaminan surga itu menunjukan bahwa kita tidak benar-benar mencintai Tuhan?

tn-komentar1

~
Alinka,

Anda memberikan pendapat yang menarik. Kalau saya memikirkan pendapat tersebut, maka saya tiba pada pemikiran ini, yaitu tidak mungkin saya dapat memantaskan diri di hadapan Sang Pencipta hanya dengan menjadi baik. Mengapa? Apa yang baik dari orang berdosa? Bukankah tidak ada yang baik dari orang berdosa?

Lalu, saya pun berpikir lagi. Kalau Allah memberikan alam semesta untuk kebutuhan manusia, maka apakah tidak mungkin Allah pun memberikan sorga yang menjadi harapan manusia? Pertanyaannya adalah bagaimana cara agar bisa masuk sorga secara pasti, bukan mudah-mudahan? Apakah dengan menjadi baik? Mungkinkah? Bagaimana menurut Anda?
~
Staff TN

Ncuhy

~
Menurut hemat saya, kita tidak perlu berdebat panjang tentang as-syirat, sebab menurut pengikut Yesus Kristus seperti Anda menganggap bahwa Yesus (Isa) adalah Tuhan.

Namun bagi Muslim menganggap Isa adalah Nabi. Tidak sah iman seseorang jika tidak percaya dengan salah satu nabi Allah termasuk Isa putra Maryam.

Apalagi mengenai as-syirat. Hemat saya, menurut Islam konsepnya hanya dua kalau mau selamat. Kerjakan yang diperintahkan dan jauhkan larangan. Sedangkan menurut pengikut Yesus Kristus, semua dosa sudah ditanggung oleh yang telah disalib.

tn-komentar1

~
Maaf Sdr. Ncuhy, kita di sini bukan untuk berdebat. Tetapi berdiskusi untuk mencari kebenaran (bukan pembenaran) melalui fakta-fakta yang ada. Jadi bukan pendapat sepihak.

Anda mengatakan bahwa Muslim wajib mengimani Isa Putra Maryam. Jika tidak keberatan, dapatkah sdr menjelaskan dengan cara bagaimanakah Muslim membuktikan bahwa ia benar beriman kepada Isa?

Tentu sdr setuju bila saya mengatakan “iman tanpa perbuatan adalah bohong,” bukan?

Bicara tentang “melakukan perintah dan menjauhi larangan Allah” memang bukan hal yang sulit. Namun saya percaya, tidak seorang pun di dunia ini yang dapat melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya 100%. Dengan kata lain, setiap orang pasti jatuh dalam dosa.

Akankah Allah yang sempurna membiarkan manusia berdosa masuk ke dalam sorga-Nya yang suci?
~
Staff TN

Andik

~
Perbanyak amal ibadah dan wajib lebih baik dari hari sebelumnya.

tn-komentar1

~
Perbanyak amal dan lebih baik dari sebelumnya merupakan pemikiran yang sering saya dengar. Tetapi mungkinkah manusia bisa lebih baik dari hari sebelumnya? Manusia adalah makhluk kompleks yang tidak sesederhana seperti yang diungkapkan. Jika amal bisa menolong seseorang masuk sorga, maka perlu dipertanyakan kenapa Muhammad tidak tahu nasibnya di akhirat (Qs 46:9)?

Tentu ini pemikiran saya saja. Namun, barangkali Anda mampu menjelaskan dan menjawab pertanyaan di atas sehingga kita tidak terjebak pada dogmatika yang belum tentu kebenarannya. Bukankah demikian?
~
Staff TN

Henry daya

~
Hanya dalam nama Yesus ada keselamatan dan hidup. Yesus membawa damai dan keselamatan pada orang yang percaya dan mau menerimanya, taat kepada firman Tuhan Yesus akan membuat hidup kita damai. Hallelujah.

Kepada Ahmad Fauzi,
Sebenarnya Allah orang Kristen berbeda dengan alloh orang Islam. Allah Bapa yang di surga mengasihi semua bangsa dan suku di dunia. Allohnya Muslim sangat membenci orang Yahudi dan Nasrani, juga membenci orang-orang kafir atau kuffar.

tn-komentar1

~
Memang benar kalau nama Isa Al-Masih yang dapat menyelamatkan manusia dari neraka. Banyak orang gelisah dan takut menghadapi kematian, tetapi tidak tahu harus berbuat apa karena banyaknya ajaran yang membuat bingung. Karena itu, alangkah lebih baik bila mempelajari kembali Taurat, Injil dan membandingkan dengan Al-Quran. Saya kira ini salah satu cara efektif untuk mengetahui kebenaran. Terima kasih untuk tanggapan Anda.
~
Staff TN

Ahmad

~
Dari berbagai peryataan anda bisa disimpulkan bahwa penganut agama anda adalah penyuka hal-hal instan. Cari mudahnya saja. Hampir sama dengan tak beragama. Enggan berpikir dan berusaha dalam hal akherat. Kenapa? Karena kalian berpikir semua sudah ditanggung oleh satu orang saja. Tinggal naik gerbong semua urusan beres.

Apakah anda tidak berpikir pola ini sangat berbahaya? Untuk apalagi berbuat baik? Manusia bisa bebas semaunya kalau begitu. Untuk apalagi ada aturan coba? Jahatpun tak masalah, sudah ditanggung. Sungguh tidak rasional cara pikir anda tentang agama dan anehnya Anda mengoreksi/membalik/menggunakan akal rasional anda dalam mengoreksi suatu agama lain/Islam. Insyaallah anda bertemu Islam. Amin.

tn-komentar1

~
Jikalah Anda mengembangkan rasionalitas Anda, maka Anda pun akan mempertanyakan dogma mengenai berbuat baik yang bisa menolong lepas dari neraka. Bagaimana mungkin perbuatan baik bisa menolong seseorang masuk sorga, sedangkan dosa Anda begitu banyak hingga tak terhitung? Mungkinkah Anda bisa selamat karena perbuatan baik?

Saya tidak mengabaikan untuk berbuat baik. Tetapi berbuat baik bukan syarat atau prasyarat masuk sorga. Kenapa? Karena tidak ada yang baik dari orang yang berdosa di hadapan Allah. Satu kenajisan saja yang sudah dilakukan tetap najis di hadapan Allah. Sekarang saya bertanya kepada Anda. Jika Anda telah najis atau telah banyak melakukan kenajisan, mungkinkah Allah berkenan memasukkan Anda ke sorga? Mungkinkah kenajisan Anda dibayar dengan perbuatan baik? Bagaimana Anda menjelaskan ini?
~
Staff TN

Adat

~
Tiba-tiba saya teringat sabda nabi bahwa mati syahid dapat menghindarkan diri dari shirot dan tanpa dihisab amal ibadah kita. Mungkin saya akan lebih memilih meninggal secara syahid. Karena terlalu takutnya saya terhadap shirot dan penghisapan amal perbuatan.

tn-komentar1

~
Ini menarik sekali. Kalau Anda memilih jalan kematian dengan cara mati syahid, maka Anda mengorbankan orang lain. Apakah mati syahid yang dimaksud adalah melakukan bom bunuh diri? Apakah demikian? Jika yang dimaksud adalah bom bunuh diri, maka hal itu merugikan Anda dan orang lain? Benarkah Allah berkenan atas cara demikian? Benarkah doktrin syahid adalah doktrin yang benar dan berasal dari Allah untuk menghindari kengerian shirath?
~
Staff TN

Abdul Rahim

~
Saya hanya ingin memberikan sedikit pesan dan mudah-mudahan bermakna. Saya menyarankan jangan mengutip kitab Perjanjian Lama ataupun kitab Perjanjian Baru (Bible), tapi bukalah Injil asli yang belum diubah. Setelah itu silakan saudara renungi kembali keimanan saudara. Mudah-mudahan banyak sahabat yang mendapatkan hidayah.

tn-komentar1

~
Saya belum mengerti maksud pernyataan Anda dengan Injil asli yang belum diubah. Injil mana yang Anda maksud? Apakah dengan membaca Injil yang Anda anggap asli tersebut dapat menolong untuk menghindari kengerian shirath? Apakah dengan membaca Injil yang Anda anggap asli tersebut memberikan jaminan pasti masuk sorga? Pernahkah Anda membaca Injil yang Anda anggap asli tersebut?

Mohon maaf, bila saya meragukan kalau Anda pun belum membaca Injil yang dianggap asli tersebut. Berharap Anda dapat menyebutkan Injil tersebut dan menjawab pertanyaan saya.
~
Staff TN

sudirman

~
Perlu kalian ketahui, insya Allah artinya adalah janji Allah. Apakah kalian ragu dengan janji Allah? Cukup itu saja.

tn-komentar1

~
Kata Insya Allah merupakan kata yang tidak mengandung kepastian. Mengapa? Sebab dengan menyatakan demikian, maka sesungguhnya kita meragukan janji Allah. Allah telah memberikan firman-Nya, tetapi Anda masih menyatakan mudah-mudahan. Bukankah demikian? Jika Anda menyatakan insya Allah adalah janji Allah SWT, maka apa bentuk janji Allah SWT secara konkret dari kata ‘insya Allah’ tersebut? Bagaimana Anda menjelaskan ini?
~
Staff TN

H A

~
Bismillah. Saya akan jawab pertanyaan Anda.
1. Karena Allah mengukur keimanan dan amal hambanya melalui jembatan shirat. Ada yang lewat secepat kedipan mata, secepat kilat, sprti angin, seperti kuda berlari kencang, berjalan, bahkan merangkak dgn pelan. Semua tergantung amalan dan keimanan kita di dunia. Bila Anda bertanya bagaimana bisa dilewati, jembatan itu licin, tajam, bergerak-gerak dan sangat lembut. Jawabannya bisa, karena di akhirat kelak banyak hal menakjubkan, menakutkan dan sangat luar biasa yang bila dipikirkan tidak sesuai logika dan sangat tidak masuk akal.

2. Joko sudah benar takut dengan Shirat, karena agar dia tidak lupa kewajibannya sebagai hamba Allah. Bila Joko tidak takut dengan Shirat dia akan lupa dengan akhirat dan hari pembalasan kelak. Bila Joko selalu yakin bisa melewati Shirat, dia yakin akan kebaikannya, dia yakin bisa, dia termasuk orang yang sombong.

3. Jelas takut. Kita hanyalah hamba Allah yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Merendahlah di hadapan Allah, kita masih banyak dosa dan kekurangan. Jangan merasa banyak amal dan tidak takut apa-apa. Kita yang mengimani Shirat pasti takut saat memikirkannya. Kita sebagai orang beriman wajib percaya adanya Shirat, berusaha mengumpulkan bekal melewati Shirat dan berdoa kepada Allah.

tn-komentar1

~
Saya berterima kasih untuk tiga jawaban yang diberikan. Mohon maaf, saya terpaksa menghapus sebagian komentar Anda dan menjadikannya satu kolom. Berikut tanggapan saya:
1. Membaca pernyataan Anda di atas, maka amal yang menjadi penentu bagaimana Anda dapat melewati shirat dengan beraneka ragam ketakjuban. Mulai dari secepat kedipan mata, secepat kilat, dan sebagainya. Tetapi benarkah demikian? Mungkinkah jembatan yang terbuat dari rambut yang dibelah tujuh dapat dilewati secara demikian? Tertulis dimanakah itu dalam Al-Quran?

2. Yakin bisa melewati shirat dengan unsur ketakutan di dalamnya tidak akan menolong. Saya berharap Anda pernah mengalami situasi yang menimbulkan ketakutan dalam diri Anda. Apakah Anda dapat berpikir dan bertindak tenang? Tetapi meyakini janji Allah agar bisa masuk sorga, maka itu lebih baik, sebab kita percaya pada perkataan Allah. Saya bertanya kepada Anda. Apakah Anda percaya pada perkataan Allah SWT? Apa janji Allah SWT untuk menjamin Anda pasti masuk sorga? Tertulis dimanakah itu dalam Al-Quran?

3. Percaya kepada janji Allah merupakan bentuk merendahkan diri di hadapan Allah. Tetapi tidak memercayai janji Allah merupakan bentuk arogansi manusia terhadap Allah. Saya bertanya kepada Anda. Berharap Anda dapat menjawab pertanyaan saya pada poin 2.
~
Staff TN